Fitna The Movie : Pelecehan Terhadap Islam


Dan Geert Wilders pun tersenyum. Mungkin itu yang tepat dituliskan, seandainya Geert Wilders tau bahwa film FITNA buatannya berhasil menyulut emosi sebagai reaksi atas ditayangkannya dan tersebarnya Fitna The Movie. Seperti apa sih film Fitna, film anti Islam, yang berdurasi 15 menit buatan politikus sayap kanan Belanda itu? Hingga pemerintah pun mengultimatum YouTube apabila hingga tidak segera menghapus film tersebut dari servernya, maka negeri ini akan memblokir YouTube.

Setelah menyaksikan sendiri “FITNA” film anti islam yang berdurasi 15 menit buatan politikus sayap ultra kanan Belanda Geert Wilders terlihat jelas tujuan dan upaya mendiskreditkan Islam dari dibuatnya film tersebut. Film dokumenter itu penuh dengan adegan teror berupa pengeboman, pembakaran dan pembunuhan kaum kulit putih, dan Yahudi yang dikatakan dilakukan oleh umat Islam.

Fitna yang diputar di website www.liveleak.com itu dibuka dengan nukilan Al Quran surat Al An’am yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda. Terjemahan dari ayat yang disatir itu adalah, “Allah tidak akan membiarkan orang kafir hidup di dunia dan akan menyiksanya di akhirat”.

Potongan ayat itu oleh Wilders disambung dengan cuplikan gambar peristiwa penabrakan pesawat oleh teroris pada menara kembar WTC di New York, Amerika Serikat, 11 September 2001 silam.

Cukilan ayat kedua diambil dari Surat An Nisa ayat 56. Terjemahannya adalah, “Sesunguhnya orang-orang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Setelah itu, agar meyakinkan, anggota ultra sayap kanan parlemen Belanda itu menyambungnya dengan adegan pengeboman sebuah bus tingkat di Inggris dan pembakaran tubuh seorang kulit putih. Orang tersebut lantas diseret oleh orang-orang berkulit hitam.

Tak hanya nukilan ayat, Wilders juga menambah rekaman filmnya dengan ceramah seorang ulama Arab yang mempropagandakan jihad sambil mengacungkan sebuah pedang. Adegan tersebut seolah-olah menggambarkan Islam dengan ajaran jihadnya sebagai agama yang cinta pada kekerasan.

Selain cuplikan video tentang ajakan jihad dan beberapa peristiwa pengeboman yang memang dilakukan oleh kelompok teroris, politisi berusia 44 tahun itu juga memuat gambar seorang wanita yang sedang bertanya kepada seorang anak wanita. “Apa agamamu? Tanya wanita tersebut dalam Bahasa Arab.

Anak wanita berkerudung putih yang usianya masih 3,5 tahun itu dengan polos menjawab ‘muslim’. Wanita itu kemudian bertanya apakah dia tahu siapa kaum Yahudi dan seperti apa mereka. Lagi-lagi dengan polos, anak perempuan itu mengaku tahu. Menurutnya kaum Yahudi itu seperti monyet dan babi.

Dibagian akhir film terdapat fragmenn setelah NAZI (1945) dan Komunisme (1989) kini saatnya Eropa harus menaklukan ideologi Islam, STOP ISLAMISASI dan pertahankan kebebasan (freedom) kita. Islam mau menguasai, menindas dan bermaksud menghancurkan peradaban Barat. Muslim menginginkan bahwa Anda harus memberi ruang untuk Islam, tapi Islam tidak memberikan ruang untuk Anda. Pemerintah (Pemerintah Belanda:Red) menyuruh Anda untuk respek untuk Islam, tapi Islam sama sekali tidak mempunyai respek untuk Anda.

Terlihat jelas disitu bahwa propaganda dari “Widers” bertujuan untuk menyinggung dan menyamakan Islam dengan kekerasan dan berupaya untuk menyugestikan masyarakat umum agar phobia terhadap Islam, Quran sebagai kitab fasis dan menyebutkan pula filmnya adalah peringatan terakhir sebelum Belanda dan Eropa dikuasai Islam.

Terakhir, marilah kita umat Islam Indonesia khususnya kita sikapi persoalan ini dengan sikap yang mulia, tidak terprovokasi buktikan bahwa tuduhan si pembuat film tersebut salah bahwa Islam itu fasis.

Islam adalah agama yang jauh dari apa yang digambarkannya. Orang ini sengaja berupaya memecah belah umat Islam, mereka khawatir karena Islam lebih baik dari agama mereka. Terbuktinya mereka tidak bertoleransi terhadap agama lain.

Indonesia telah membuktikan walapun belum sesempurna seperti yg diajarkan Islam toleransi beragama cukup besar walaupun hampir 85% penduduk Indonesia beragama Islam, namun semua agama mendapatkan perlakuan yang sama, seperti contoh untuk hari libur semua perayaan besar agama di Indonesia mendapatkan hari libur, yang mungkin tidak banyak di negara lain menerapkan hal yang sama. Indonesia yang baru belajar demokrasi bisa lebih toleran dengan barat yg menyanjung kebebasan tanpa toleransi.

Mereka sendiri tidak berkaca dengan pengalaman imperialisme mereka yang menyebabkan puluhan bangsa sekarat dan terjajah di bawah politik kolonialisme mereka yang telah menjadi luka teramat dalam bagi bangsa-bangsa jajahannya. Dan mereka tidak menyadari keberadaan Islam garis keras tersebut muncul dari perlakuan mereka sendiri yang memunculkan benih-benih permusuhan dan berusaha untuk menguasai dan mengambil hak-hak bangsa lain yang mereka inginkan. Yang pasti karena kejadian ini, semoga kita umat Islam semakin bersatu padu dan semakin mempertebal keimanan kita terhadap Islam. Amin ya robbal allamin..

0 comments:

Post a Comment